Mahasiswa Harus Berkarakter!
Dewasa ini pendidikan berkarakter memang menjadi isu utama dalam dunia pendidikan, tak terkecuali di lingkup perguruan tinggi. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak mahasiswa sebagai anak bangsa, pendidikan berkarakter diharapkan mampu menjadi kesuksesan peradaban bangsa.
Karakter terbentuk saat seseorang lahir. Lingkungan di mana ia tumbuh mempengaruhi baik buruknya karakter. Karakter mahasiswa kembali mulai terbentuk setelah mereka melakukan interaksi di lingkungan kampus. Tolok ukur pembentukan karakter seorang mahasiswa dapat dilihat dari proses mulai dari saat berpredikat mahasiswa baru hingga mantan mahasiswa.
Mengutip pernyataan Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh, saat melantik Rektor Universitas Hasanuddin Makassar pada 7 April 2010 lalu, pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menciptakan masyarakat yang berkarakter. “Pendidikan memang berhasil mencetak mahasiswa sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi pendidikan saat ini tidak berhasil menciptakan masyarakat yang memiliki karakter,” jelasnya sebagaimana dikutip dari Bataviace.co.id.
Pendidikan berkarakter harus dimulai dan dibangun di lingkungan keluarga, dikembangkan di dunia pendidikan, serta pada akhirnya diterapkan secara nyata di dalam kehidupan bermasyarakat. Salah seorang mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo), Anggarius Victorius Dawa mengatakan pendidikan berkarakter sangat bermanfaat untuk saling menghargai sesama di lingkungan kampus.
”Dengan pembentukan karakter yang baik maka akan membuka jalan buat mahasiswa ketika terjun ke dunia kerja. Karena dunia global saat ini menuntut tenaga kerja profesional dan punya karakter khusus,” paparnya. Kendati demikian, menurutnya karakter yang seharusnya dimiliki mahasiswa belum terlihat. Sebagai seorang mahasiswa karakter khusus seperti kreatif, responsif, dan bertanggung jawab wajib dimiliki.
Menanggapi persoalan ini, Kepala Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo), Galuh Dian Prama Dewi, S.IP, MA mengatakan lingkungan kampus sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter mahasiswa. Sebab, kampus ibarat rumah kedua bagi seorang mahasiswa.
“Tuntutan kemandirian membuat mahasiswa tidak memiliki kontrol dari pihak luar. Untuk menciptakan kontrol diri terhadap pengaruh karakter negatif yang memungkinkan mempengaruhi karakter dasar mahasiswa, maka diperlukan pendidikan tentang pembentukan karakter di kampus,” tegasnya.
Teori
Lebih lanjut diungkapkan, upaya pembentukan karakter tidak cukup hanya dipelajari secara teori saja. Aplikasi dari teori itu sendiri merupakan sesuatu yang sangat penting. Dicontohkannya, pendidikan seperti body language, performance, public speaking dan etika sosial dalam rangkaian Character Building Class (CBC) sebagaimana rutin digelar bagi mahasiswa baru Program Studi Hubungan Internasional FISE Unriyo terbukti sangat bermanfaat.
Kegiatan BCB ini diutarakan sangat membantu mahasiswa mengenal pribadi dan karakter orang lain. “Kekurangan dan kelebihan masing-masing. Apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan mahasiswa sebagai makhluk sosial yang memiliki intensitas interaksi dengan publik, dan lain lain terungkap dalam kegiatan ini,” jelas dia.
Selanjutnya, aplikasi CBC diterapkan para mahasiswa selama mereka berada di kampus dan mengikuti perkuliahan. Melalui program seperti CBC para mahasiswa diharapkan memiliki sikap kontrol dan pengendalian diri terhadap diri mereka dalam upaya pembentukan karakter pribadi yang baik sebagai bakal di kemudian hari. Galuh mengatakan terbentuknya karakter yang baik sangat bermanfaat sebagai pencitraan mahasiswa yang bersangkutan.
Pendapat sedikit berbeda dikemukakan Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi FISE Unriyo, Ririn Risnawati, S.Sos, M.Si. Menurutnya karakter seseorang dibentuk menurut bakat diri serta proses belajar di lingkungan sekitarnya. Sementara keberadaan kampus dikatakan juga memiliki peran, yakni melalui beberapa mata kuliah yang diajarkan seperti kewarganegaraan, ilmu agama, serta ilmu sosial dan budaya.
Masih menurutnya, sebagai mahasiswa seorang individu sudah selayaknya membawa karakter mereka sendiri. Seorang mahasiswa selayaknya memiliki karakter seperti tak mudah menyerah, menghargai orang lain, jujur, sopan, berempati, peka terhadap lingkungan dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tangguh serta bersahaja.”Bukalah mata, hati dan telinga untuk kebaikan. Dan peka terhadap lingkungan sekitar dengan saling berbagi, saling menghargai dan saling menghormati,“ ujar dia.
Dengan bekal pendidikan berkarakter selanjutnya diharapkan mampu menciptakan tenaga kerja yang berkepribadian dan mempunyai daya saing unggul di dunia kerja. Dari sisi kebanggaan bangsa, terbentuknya masyarakat yang berkarakter digarapkan mampu mendorong kesejajaran dengan bangsa-bangsa berkembang serta maju lainnya
Mengutip pernyataan Menteri Pendidikan Nasional, Mohammad Nuh, saat melantik Rektor Universitas Hasanuddin Makassar pada 7 April 2010 lalu, pendidikan di Indonesia saat ini belum mampu menciptakan masyarakat yang berkarakter. “Pendidikan memang berhasil mencetak mahasiswa sebagai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi pendidikan saat ini tidak berhasil menciptakan masyarakat yang memiliki karakter,” jelasnya sebagaimana dikutip dari Bataviace.co.id.
Pendidikan berkarakter harus dimulai dan dibangun di lingkungan keluarga, dikembangkan di dunia pendidikan, serta pada akhirnya diterapkan secara nyata di dalam kehidupan bermasyarakat. Salah seorang mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo), Anggarius Victorius Dawa mengatakan pendidikan berkarakter sangat bermanfaat untuk saling menghargai sesama di lingkungan kampus.
”Dengan pembentukan karakter yang baik maka akan membuka jalan buat mahasiswa ketika terjun ke dunia kerja. Karena dunia global saat ini menuntut tenaga kerja profesional dan punya karakter khusus,” paparnya. Kendati demikian, menurutnya karakter yang seharusnya dimiliki mahasiswa belum terlihat. Sebagai seorang mahasiswa karakter khusus seperti kreatif, responsif, dan bertanggung jawab wajib dimiliki.
Menanggapi persoalan ini, Kepala Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo), Galuh Dian Prama Dewi, S.IP, MA mengatakan lingkungan kampus sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter mahasiswa. Sebab, kampus ibarat rumah kedua bagi seorang mahasiswa.
“Tuntutan kemandirian membuat mahasiswa tidak memiliki kontrol dari pihak luar. Untuk menciptakan kontrol diri terhadap pengaruh karakter negatif yang memungkinkan mempengaruhi karakter dasar mahasiswa, maka diperlukan pendidikan tentang pembentukan karakter di kampus,” tegasnya.
Teori
Lebih lanjut diungkapkan, upaya pembentukan karakter tidak cukup hanya dipelajari secara teori saja. Aplikasi dari teori itu sendiri merupakan sesuatu yang sangat penting. Dicontohkannya, pendidikan seperti body language, performance, public speaking dan etika sosial dalam rangkaian Character Building Class (CBC) sebagaimana rutin digelar bagi mahasiswa baru Program Studi Hubungan Internasional FISE Unriyo terbukti sangat bermanfaat.
Kegiatan BCB ini diutarakan sangat membantu mahasiswa mengenal pribadi dan karakter orang lain. “Kekurangan dan kelebihan masing-masing. Apa yang seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan mahasiswa sebagai makhluk sosial yang memiliki intensitas interaksi dengan publik, dan lain lain terungkap dalam kegiatan ini,” jelas dia.
Selanjutnya, aplikasi CBC diterapkan para mahasiswa selama mereka berada di kampus dan mengikuti perkuliahan. Melalui program seperti CBC para mahasiswa diharapkan memiliki sikap kontrol dan pengendalian diri terhadap diri mereka dalam upaya pembentukan karakter pribadi yang baik sebagai bakal di kemudian hari. Galuh mengatakan terbentuknya karakter yang baik sangat bermanfaat sebagai pencitraan mahasiswa yang bersangkutan.
Pendapat sedikit berbeda dikemukakan Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi FISE Unriyo, Ririn Risnawati, S.Sos, M.Si. Menurutnya karakter seseorang dibentuk menurut bakat diri serta proses belajar di lingkungan sekitarnya. Sementara keberadaan kampus dikatakan juga memiliki peran, yakni melalui beberapa mata kuliah yang diajarkan seperti kewarganegaraan, ilmu agama, serta ilmu sosial dan budaya.
Masih menurutnya, sebagai mahasiswa seorang individu sudah selayaknya membawa karakter mereka sendiri. Seorang mahasiswa selayaknya memiliki karakter seperti tak mudah menyerah, menghargai orang lain, jujur, sopan, berempati, peka terhadap lingkungan dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tangguh serta bersahaja.”Bukalah mata, hati dan telinga untuk kebaikan. Dan peka terhadap lingkungan sekitar dengan saling berbagi, saling menghargai dan saling menghormati,“ ujar dia.
Dengan bekal pendidikan berkarakter selanjutnya diharapkan mampu menciptakan tenaga kerja yang berkepribadian dan mempunyai daya saing unggul di dunia kerja. Dari sisi kebanggaan bangsa, terbentuknya masyarakat yang berkarakter digarapkan mampu mendorong kesejajaran dengan bangsa-bangsa berkembang serta maju lainnya